Senin, 12 Mei 2014

Lopin (BAB I - Mini Love)

jangan pernah membandingkan dia dengan sebelumnya karena dia hanya memberi sebuah kesempatan jangan sampai menyesal
Mini berjalan dengan langkah terburu-buru setengah berlari. Wajahnya terlihat meringis karena menahan sesuatu. “Aduh, kebelet kebelet kebelet!!!” ujarnya setengah berteriak.
Kampus masih sepi hingga suara langkah dan gumamannya terdengar di sekitar koridor kampus. Mini berlari tanpa melihat sekeliling lagi dengan benar hingga ketika dia berbelok Mini malah menabrak seseorang.
Bruk!!
Mini pun terpental ke belakang begitu pula orang yang ditabraknya. Mereka berdua sama-sama meringis kesakitan. Mini buru-buru bangun dan rasa ingin buang air kecilnya sudah tak tertahankan. Mini merasakan sesuatu yang hangat menjalar di celananya jeansnya yang berwarna biru langit. “I-itu—” ujar orang yang ditabraknya.
“B-Boby!!”
“Loe pipis di celana?”
Mini menutupi celananya yang terlihat basah. Dia sangat malu pada Boby. Boby bangun dan merapihkan pakaiannya. “Gue kebelet banget, tapi malah nabrak. Begini deh ga ketahanan.”
Boby tertawa. Tangannya menutupi mulutnya yang tergelak begitu geli. “Ya ampun, loe itu lucu banget. Terus gimana dong itu celananya jadi bau pesing?”
Mini menunduk. “Ga tau nih. Mungkin gue pulang aja.”
“Loe naik apa?”
“Naik angkot.”
“Serius loe mau pulang naik angkot dalam keadaan bau pesing gitu?”
Mini meringis kecil. “Terus gimana? Setidaknya kemungkinan bertemu lagi dengan orang-orang yang satu angkot sama gue itu kecil, tapi kalo di kampus kan—”
“Yauda, kalo gitu loe ke kostan gue aja.”
“Kostan? Bukannya loe pulang pergi ya?”
Boby terdiam sejenak. “Loe tau darimana gue ga ngekost?”
Mini menutup mulutnya. Ya, sejak hari pertama dia kuliah Mini mulai mencari tahu tentang Boby.
“Umm, engga maksudnya gue nanya. Terus kalo loe ga ngekost, kok tadi loe bilang ke kostan loe?”
“Jadi gue sama temen-temen gue sengaja nyewa tempat kost buat kita istirahat pas jedanya lama. Jadi kostan itu cuma buat istirahat aja. Kalo ada yang males pulang juga bisa nginep disana.”
Bukankah itu berarti gue akan ke markas RUSH? Batin Mini. “Ada siapa aja disana? Saat ini.”
“Ga ada siapa-siapa sih setahu gue. Soalnya kemarin ga ada yang nginep dan sekarang masih pagi. Jadi, mau ke kostan gue? Biar gue pinjemin celana.”
“Um, boleh.”
Boby berjalan di depan Mini. Mini merasa begitu beruntung pagi ini, walau sebenarnya dia sedang sial. Melihat Boby berjalan yang begitu cool membuatnya sangat senang. Cara Boby menaruh tas selempangnya di bahu kanannya, caranya berjalan yang santai namun tegas membuatnya terlihat sangat keren di mata Mini. “Ternyata Boby orang yang asik dan baik, kalo ga ada interaksi seperti ini gue ga bakalan tau kalo Boby yang asli itu seperti ini.” Gumamnya lebih seperti bisikan.
Tak terasa Mini mengikuti Boby sampai parkiran motor. Boby menaiki motor Ninja berwarna putihnya dan berhenti di depan Mini. Mini hanya diam, pikirannya kosong. “Ayo naik.”
“Ha?”
“Naik. Kostan gue lumayan jauh kalo jalan kaki.”
“Aah, iya.”
Mini buru-buru naik ke atas motor Boby. Dia merasa seperti mimpi diboncengi oleh seorang Boby.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki kuda begitu kencang. Sekeliling pun berubah menjadi padang rumput yang indah. Jeans dan kaos biasa berubah menjadi gaun yang sangat indah. Boby mengenakan pakaian seorang pangeran. Mini memeluk Boby dan menyandarkan kepalanya di bahu Boby.
“Udah sampe.”
Boby mengguncang-guncangkan bahunya. Mini tersadar dia sudah begitu lancang memeluk Boby. “Ehh? Loh, eh maaf! Gue ketiduran.”
Boby hanya terdiam dan turun dari motornya, Mini masuk ke dalam kostan yang tidak begitu besar. “Masuk aja duluan. Ini kuncinya, gue mau cek motor dulu. Nanti ada kamar warna pintunya hijau loe masuk aja, ambil pakaian dalem sama celana. Itu punya Riri, muat di loe.” Boby memberikan kunci kostnya kepada Mini.
Mini pun mengikuti instruksi Boby. Dia memasukkan kunci ke dalam slot namun mentok. Mini menurunkan handle Dotu ternyata tidak dikunci. “Pasti yang terakhir keluar cowok. Teledor banget.”
Mini masuk. Kostannya seperti kontrakan. Pertama Mini jumpai adalah ruang tamu yang tidak begitu besar. Di pinggir kanan terdapat tiga pintu. Dia mencari pintu warna hijau. Ketiganya warna hijau, Mini bingung yang mana yang harus dia masuki. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke pintu yang paling mendekati warna hijau.
Mini membuka Dotu kamar dan masuk. Yang pertama kali dicarinya adalah lemari. Lemari warna cokelat pun dihampirinya. Mini membuka pintu lemari dan mencari-cari pakaian dalam serta jeans. “Ini kenapa pakaian dalem cowo semua?”
Mini terus mencari-cari keberadaan barang yang dia cari namun tak kunjung ketemu hingga dia frustasi. “Jangan-jangan gue salah masuk kamar.” Mini pun berbalik.
Bruk!!
Sesuatu menutup wajah dan tubuhnya dengan kencang. “Mau maling ya loe?”
“Lepasin!” Mini memberontak dengan sekuat tenaga hingga dia berhasil melumpuhkan orang yang menyerangnya hingga mereka terjatuh ke kasur.
Mini menyentuh sesuatu yang tidak tertutup sehelai benang pun. “Dada?” Seorang cowok bertelanjang dada kini ada di bawahnya. Mini melihat wajah cowok yang ditindihinya. “Redo?”
“Siapa loe? Mau maling ya?”
Mini buru-buru beranjak. Kakinya menginjak selimut yang digunakan Redo untuk menutupi dirinya sehingga menyingkap apapun yang tadi ditutupinya. “Aaa!!!” Mini berteriak sejadi-jadinya.
Redo buru-buru menarik selimut dan menutupi tubuhnya. “Oh My God Oh My God Oh My God maafkan hamba-Mu. Hamba melihat yang tidak seharusnya dilihat. Oh My God!!” Mini membelakangi Redo.
“Eh sorry, lagian loe ngapain disini? Gue kan mau pake baju.”
“Gue siapa ya? Intinya gue kesini sama Boby.” Jawab Mini tanpa berbalik.
“Oo, eh ambilin handuk gue dong.”
“Mana?”
“Di deket kaki loe.”
Mini melirik ke bawah. Handuk berwarna cokelat tergeletak begitu saja. Dia mengambil handuk cokelat itu dan melemparnya ke Redo. “Gue mau tanya deh, kamar Riri yang mana?”
Redo tertawa dan mengangguk. “Oo jadi loe salah masuk kamar? Kamar Riri, Vera, sama Sasha itu yang paling depan. Warna hijau pintunya.”
Mini berbalik dan berkacak pinggang. Ketika sadar Redo belum melilitkan handuknya Mini langsung menutup mata. “Oh My God! Kenapa belum ditutup?”
Redo nyengir. “Baru mau ditutup. Sekarang udah.”
“Semuanya warna hijau!!”
“Hijau tosca.”
“Yauda, daripada gue lama-lama disini mending gue keluar!!” Mini langsung buru-buru pergi dari kamar tersebut dan masuk ke dalam kamar Riri. Namun sesuatu menghentikan langkahnya.
Boby tengah mengelap jok motornya dengan begitu teliti. Menyemprotkan cairan ke jok motor lalu menciumnya. Tampaknya dia belum yakin dengan apa yang sudah dia lakukan sehingga dia mengulanginya lagi. “Ya Tuhan, Boby freak banget! Cuma gara-gara kena pipis gue!”
Mini masuk ke kamar para cewek dan mencari-cari barang yang dibutuhkannya. Setelah mendapatkan apa yang diperlukan, Mini masuk ke dalam toilet dan mengganti semua.
Mini keluar dari toilet yang ada di dalam kamar. Lalu dia melihat sekeliling. Ada sebuah figura berisi begitu banyak foto dimana di atasnya terdapat tulisan RUSH. Mini tersenyum melihat persahabatan itu. Tampak begitu solid.
Di samping figura terdapat begitu banyak tulisan. Dia tertarik pada tulisan Sasha dan Vera. ‘Redo Fernando, walau kamu playboy tapi irama cintamu selalu playing di hatiku. Sampai kapanpun, aku akan menunggumu. Aku tahu, kamu sekarang hanya mencari kebahagiaan tapi pada akhirnya akulah tempat terakhirmu.’ Sasha Ayuningtias.
Mini tersenyum membacanya. “Sasha cinta banget sama Redo ternyata. Kenapa ada cowo begitu playboynya.”
‘Boby Indra Muda… Ga ada yang tahu sebenernya loe itu freak. Semua ketutupan dengan kulit loe yang cool. Tapi, semua kefreakan loe itu… itulah yang membuat gue jatuh cinta diam-diam. Tapi gue akan selalu mengharapkan loe.’ Vera.
“Vera juga cinta sama Boby. Sepertinya gue ga boleh merusak angan-angan Vera. Gue mundur aja.”
Mini buru-buru keluar dari kamar. Boby sudah selesai membersihkan motornya, dan dia duduk di kursi kayu yang terletak di teras kostan. “Nama loe siapa?” suara Redo mengagetkan Mini yang masih terbayang-bayang dengan tulisan yang dibacanya.
“Mini.” Jawabnya lemas.
“Loe kenapa?”
“Ga apa-apa. Oh ya Do, gue mau tanya deh.”
“Tanya apa?”
“Loe pernah masuk ke kamar ini?” Mini menunjuk Dotu berwarna hijau tosca itu.
Redo menggeleng. “Peraturannya cowok ga boleh masuk kamar cewek. Tapi cewek boleh masuk kamar cowok.”
Mini mengangguk. Terjawab apa yang melayang di pikirannya.
“Oh ya.” Redo berbisik di telinga Mini.
“Wey!! Ga sopan loe!”
“Sorry.”
“Apa?” Tanya Mini dengan jutek.
“Jangan bilang-bilang siapa-siapa ya apa yang terjadi tadi. Gue malu.”
Wajah Mini memerah. “Gue juga malu buat cerita ke siapa-siapa. Oh ya, loe berangkat ke kampus naik apa?”
“Biasanya bareng Boby kalo gue ga bawa mobil. Tapi sekarang gue bawa mobil.”
“Gue sama loe ya?”
“Kan loe pergi sama Boby.”
“Gue sama loe ya?” Mini memohon.
“Oke.” Jawab Redo dengan senang hati.
Mini keluar dan menemui Boby. “Boby, gue ke kampus sama Redo.”
“Loh kenapa? Kan loe pergi sama gue.”
“Ga apa-apa.” Mini tersenyum.
Boby berpikir sejenak. Apa mungkin Mini kena daya pikat Redo? Dia ga boleh jadi korban Redo, bisa bahaya. Lagipula, kasihan Sasha. “Ga, loe harus ke kampus sama gue.”
Boby memegang tangan Mini dan menariknya. Boby menaiki motornya dan memakai helm. “Naik!” suara Boby terdengar seperti sebuah perintah.
“Eh tapi gue udah bilang ke Redo gue bareng dia.”
“Ga apa-apa.”
Mini pun naik dengan terpaksa. Bukannya dia tidak ingin, namun dia memikirkan Vera yang pasti jauh lebih lama menyukainya.

Redo yang mengetahui perasaan Vera pun tidak suka melihat kejadian itu. “Kasihan Vera. Apa yang harus gue lakuin supaya mereka ga jadi deket?” gumam Redo.

Lopin (PROLOG)

jangan pernah menunda mengatakan cinta karena penyesalan akan bersahabat denganmu

Prolog...


Di sebuah perguruan swasta ternama di Jakarta tepatnya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis terdapat satu genk yang paling tenar seantero kampus. Mereka dikenal dengan sebutan Rush. Mereka digawangi oleh empat orang cowok dan tiga orang cewek.

          Boby, cowok paling misterius. Dia sangat cerdas, pendiam. Tubuhnya tinggi, berpunggung bidang, berkacamata dan di sekeliling wajahnya terdapat rambut-rambut tipis yang membuatnya tampak begitu maskulin. Boby adalah yang memiliki banyak fans namun dialah satu-satunya yang belum pernah berpacaran.

Redo, terkenal playboy. Wajahnya tidak setampan Boby, namun dia paling pandai dalam memikat wanita. Tidak ada yang lebih dari 3 bulan bila berpacaran dengannya. Namun Redo tidak pernah mendua, dia selalu memutuskan hubungan secara baik-baik dan tidak lama kemudian punya gandengan baru.

Naw, cowok dingin dan pendiam. Dia tidak pernah berinteraksi dengan cewek lain selain dengan Ibu, adik perempuannya, dan keempat cewek dari genk nya. Desas desus mengatakan Naw berlaku demikian karena dia pernah disakiti oleh cewek yang pernah menjadi pacarnya ketika SMA.

Brata, dia adalah yang paling ramah dari yang lain. Tubuhnya tinggi dan bidang. Dia pernah berpacaran satu kali namun kandas begitu saja dikarenakan Brata lebih memilih tidur daripada kencan.

Vera, cewek paling cantik di Rush. Dia memiliki gigi kelinci, tubuh tinggi dan kaki yang jenjang, kulit putih, serta matanya berwarna cokelat. Vera pun cewek yang paling pintar di Rush. Teman-temannya selalu menjodoh-jodohkannya dengan Boby, namun Boby tidak pernah memberikan kepastian kepada Vera.

Riri, bisa dikatakan isi di dalam tasnya hanyalah peralatan make up. Dalam waktu 30 menit sekali Riri akan ke toilet dan membenarkan make upnya yang sudah hilang.

Sasha, dia adalah mantan dari Redo. Ya, Redo pernah memacari sahabatnya sendiri. Walau sudah putus, namun Sasha masih mengharapkan Redo. Alasannya bertahan di Rush adalah agar dia bisa terus dekat dengan Redo walau statusnya saat ini bukanlah pacarnya lagi.

Ya, tiap kali Rush melewati siapapun, siapapun yang dilewati oleh mereka akan membicarakan mereka. Satu-satunya orang yang tidak membicarakan mereka adalah Mini—mahasiswa baru yang kesulitan mendapatkan teman.

Sebenarnya gadis bertubuh kurus dan berambut gelombang itu begitu tertarik dengan Boby. Dia begitu menyukai Boby sejak pertama menginjakkan kaki di kampus. Baginya, Boby adalah cowok yang sangat sulit untuk dimasuki dan sangat sulit untuk ditebak.


Hingga pada suatu hari sebuah kesempatan itu muncul…

Blacky has gone but still life

Bestfriend always life in heart

Waktu itu aku masih kelas 6 SD. Aku main ke rumah nenekku dan kulihat lemari tak terpakai di belakang rumah nenek. Didalamnya terdapat induk kucing hitam dan ketiga anaknya. Dua berwarna orange putih dan satu berwarna hitam. Aku begitu tertarik dengan si hitam. Kugendong dia, ringan sekali. Kira-kira usianya masih 2 minggu. “Bawa pulang aja.” Begitu kata kakekku. Aku memang terpikir untuk mengadopsinya, tapi aku mau minta persetujuan Ibuku dulu. Buru-buru kukayuh sepedaku dan pulang ke rumah. Kutanya Ibuku apakah aku boleh membawa pulang ke rumah anak kucing berwarna hitam itu. Awalnya Ibu tidak mengizinkan karena aku akan terkena omelan Ayah bila membawa kucing ke rumah. Maklum saja, Ayahku jijik dengan kucing. Tapi, aku sudah terlanjur sayang dengan anak kucing itu. Aku tidak peduli, yang penting aku harus membawa anak kucing itu ke rumah. Urusan diomeli Ayah itu urusan belakangan.
Esok harinya, aku kembali mengayuh sepedaku menuju rumah nenek. Kulihat si hitam sedang menyusu dengan induknya. Agak tidak tega sih kalau aku memisahkan dia dengan sodara-sodaranya. Apalagi dia masih butuh ASI. Ah, aku bisa mengganti susunya dengan susu sapi. Pikirku. Kuambillah dia setelah selesai menyusu. Sambil mengayuh sepeda dan suasana hati yang sangat bahagia kugendong dia. “Sahabatku~” gumamku.
Setibanya di rumah, Ibu tertawa kecil melihat si hitam. Aku dengan sangat bawel meminta pendapat Ibu untuk menamainya. Akhirnya, kami putuskan member namanya Blacky. Ya, Blacky kucing kecilku sahabat baruku.
Hari-hari kulalui bersamanya. Kulatih dia hingga dia selalu mengantarku kalau aku ke warung untuk jajan. Sebagai gantinya, aku membelikannya sosis. Blacky sangat suka. Jadi teringat, waktu itu malam di bulan Ramadhan. Orang-orang solat taraweh, aku dan Blacky malah main lari-larian di halaman rumah. Dia mengejar-ngejarku. Kucing nakal!
1 SMP. Aku harus operasi usus buntu dan harus tinggal di rumah sakit selama seminggu lebih. Duh, aku kangen banget sama Blacky. Sepulang dari rumah sakit, aku agak sedih karena Blacky tidak mengenaliku. Tapi kesedihanku tidak berlangsung lama. Blacky kembali mengenaliku dan mau bermain denganku.
Ternyata, selama aku dioperasi Ibuku sedang mengandung. Wah, itu adalah kabar yang sangat membahagiakan. Seorang adik yang sudah lama kudamba-dambakan akhirnya hadir juga di rahim Ibuku. Kelas 2 SMP adikku lahir ke muka bumi. Perempuan. Ya, kini hidupku terasa begitu lengkap. Blacky dan Shafa. Sahabat dan adik…..
Bertahun-tahun tidak kukira aku semakin dewasa. Adikku pun sudah bisa jalan dan bermain dengan Blacky. Ya, tentunya Blacky udah kawin hehe dan sahamnya ada dimana-mana. *tepuk tangan*
Suatu hari, sekitar setahun yang lalu Blacky tidak pulang ke rumah hampir satu minggu. Blacky tidak pernah begitu. Walau musim kawin sekalipun, dia selalu pulang ke rumah untuk makan dan minum. Tapi ini tidak. Aku benar-benar khawatir. Ikatan batin kami begitu kuat dan aku sangat yakin ada sesuatu pada Blacky.
Aku menangis semalaman, tanpa Ayah dan Ibu ketahui. Terkadang mereka suka menertawai kalau aku terlalu khawatir dengan Blacky. Ya, hanya saja mereka tidak merasakan kalau Blacky memang benar sahabatku. Sahabatku yang paling setia. Yang selalu menemaniku di saat-saat aku sedang merasa sedih, marah, dan sepi.
Esoknya, saat magrib tiba. Aku solat dengan sangat khusyuk dan berdoa. “Ya Allah, bila Blacky memang harus mati buatlah dia mati di depan rumahku. Kalau dia sakit, pulangkanlah dia ke rumahku. Kalau dia sehat, jangan buat aku menghawatirkannya.” Aku keluar rumah, dan do’aku terjabah. Blacky sedang tiduran di depan rumahku. Tapi dia tidak baik-baik saja. Tubuhnya begitu kurus dan tidak bisa jalan. Aku menangis. Kubawa Blacky masuk ke dalam rumah dan kuselimuti dia. Kuberi dia minum, aku tahu Blacky haus. Kusuapi dia air. Kuberikan sosis kesukaannya tapi dia tidak mau. Kuseduhi susu hangat dan dia tidak mau. Aku sangat khawatir. Kurawat dia dengan sungguh-sungguh. Blacky sudah tua. Pikirku seperti itu. Tapi aku belum kerja, aku mau Blacky juga merasakan uang gaji pertamaku. Aku mau beliin dia sosis yang banyak, es krim, dan susu ultra yang dia sangat suka. Aku selalu berdoa agar Allah memperpanjang umur Blacky. Alhamdulillah, tiga hari kemudian Blacky sehat. Aku sangat bahagia. Ah Blacky, kamu membuatku khawatir saja!!
Kini Blacky sudah 9 tahun. Ya, 9 tahun yang lalu ketika kakinya masih gemetaran ketika menginjak lantai. Hari-hari yang kulalui bersamanya begitu panjang. Blacky yang tiap pagi membangunkanku tidur dengan mengeong dan masuk ke kamarku. Blacky yang selalu mengantarku ke warung. Dia kucing, bukan anjing. Tapi dia tak kalah dari anjing dalam hal persahabatan.
Kini Blacky sudah tiada…
Aku rindu kamu~