![]() |
| jangan pernah membandingkan dia dengan sebelumnya karena dia hanya memberi sebuah kesempatan jangan sampai menyesal |
Mini berjalan dengan langkah
terburu-buru setengah berlari. Wajahnya terlihat meringis karena menahan
sesuatu. “Aduh, kebelet kebelet kebelet!!!” ujarnya setengah berteriak.
Kampus
masih sepi hingga suara langkah dan gumamannya terdengar di sekitar koridor
kampus. Mini berlari tanpa melihat sekeliling lagi dengan benar hingga ketika
dia berbelok Mini malah menabrak seseorang.
Bruk!!
Mini pun
terpental ke belakang begitu pula orang yang ditabraknya. Mereka berdua
sama-sama meringis kesakitan. Mini buru-buru bangun dan rasa ingin buang air
kecilnya sudah tak tertahankan. Mini merasakan sesuatu yang hangat menjalar di
celananya jeansnya yang berwarna biru langit. “I-itu—” ujar orang yang
ditabraknya.
“B-Boby!!”
“Loe pipis
di celana?”
Mini
menutupi celananya yang terlihat basah. Dia sangat malu pada Boby. Boby bangun
dan merapihkan pakaiannya. “Gue kebelet banget, tapi malah nabrak. Begini deh
ga ketahanan.”
Boby
tertawa. Tangannya menutupi mulutnya yang tergelak begitu geli. “Ya ampun, loe
itu lucu banget. Terus gimana dong itu celananya jadi bau pesing?”
Mini
menunduk. “Ga tau nih. Mungkin gue pulang aja.”
“Loe naik
apa?”
“Naik
angkot.”
“Serius loe
mau pulang naik angkot dalam keadaan bau pesing gitu?”
Mini
meringis kecil. “Terus gimana? Setidaknya kemungkinan bertemu lagi dengan
orang-orang yang satu angkot sama gue itu kecil, tapi kalo di kampus kan—”
“Yauda,
kalo gitu loe ke kostan gue aja.”
“Kostan?
Bukannya loe pulang pergi ya?”
Boby
terdiam sejenak. “Loe tau darimana gue ga ngekost?”
Mini
menutup mulutnya. Ya, sejak hari pertama dia kuliah Mini mulai mencari tahu
tentang Boby.
“Umm, engga
maksudnya gue nanya. Terus kalo loe ga ngekost, kok tadi loe bilang ke kostan
loe?”
“Jadi gue
sama temen-temen gue sengaja nyewa tempat kost buat kita istirahat pas jedanya
lama. Jadi kostan itu cuma buat istirahat aja. Kalo ada yang males pulang juga
bisa nginep disana.”
Bukankah itu berarti gue akan ke markas RUSH? Batin Mini.
“Ada siapa aja disana? Saat ini.”
“Ga ada
siapa-siapa sih setahu gue. Soalnya kemarin ga ada yang nginep dan sekarang
masih pagi. Jadi, mau ke kostan gue? Biar gue pinjemin celana.”
“Um,
boleh.”
Boby
berjalan di depan Mini. Mini merasa begitu beruntung pagi ini, walau sebenarnya
dia sedang sial. Melihat Boby berjalan yang begitu cool membuatnya sangat
senang. Cara Boby menaruh tas selempangnya di bahu kanannya, caranya berjalan
yang santai namun tegas membuatnya terlihat sangat keren di mata Mini.
“Ternyata Boby orang yang asik dan baik, kalo ga ada interaksi seperti ini gue
ga bakalan tau kalo Boby yang asli itu seperti ini.” Gumamnya lebih seperti
bisikan.
Tak terasa Mini
mengikuti Boby sampai parkiran motor. Boby menaiki motor Ninja berwarna
putihnya dan berhenti di depan Mini. Mini hanya diam, pikirannya kosong. “Ayo
naik.”
“Ha?”
“Naik.
Kostan gue lumayan jauh kalo jalan kaki.”
“Aah, iya.”
Mini
buru-buru naik ke atas motor Boby. Dia merasa seperti mimpi diboncengi oleh
seorang Boby.
Tiba-tiba
terdengar suara langkah kaki kuda begitu kencang. Sekeliling pun berubah
menjadi padang rumput yang indah. Jeans dan kaos biasa berubah menjadi gaun
yang sangat indah. Boby mengenakan pakaian seorang pangeran. Mini memeluk Boby
dan menyandarkan kepalanya di bahu Boby.
“Udah
sampe.”
Boby
mengguncang-guncangkan bahunya. Mini tersadar dia sudah begitu lancang memeluk
Boby. “Ehh? Loh, eh maaf! Gue ketiduran.”
Boby hanya
terdiam dan turun dari motornya, Mini masuk ke dalam kostan yang tidak begitu
besar. “Masuk aja duluan. Ini kuncinya, gue mau cek motor dulu. Nanti ada kamar
warna pintunya hijau loe masuk aja, ambil pakaian dalem sama celana. Itu punya Riri,
muat di loe.” Boby memberikan kunci kostnya kepada Mini.
Mini pun
mengikuti instruksi Boby. Dia memasukkan kunci ke dalam slot namun mentok. Mini
menurunkan handle Dotu ternyata tidak dikunci. “Pasti yang terakhir keluar
cowok. Teledor banget.”
Mini masuk.
Kostannya seperti kontrakan. Pertama Mini jumpai adalah ruang tamu yang tidak
begitu besar. Di pinggir kanan terdapat tiga pintu. Dia mencari pintu warna
hijau. Ketiganya warna hijau, Mini bingung yang mana yang harus dia masuki.
Akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke pintu yang paling mendekati warna hijau.
Mini
membuka Dotu kamar dan masuk. Yang pertama kali dicarinya adalah lemari. Lemari
warna cokelat pun dihampirinya. Mini membuka pintu lemari dan mencari-cari
pakaian dalam serta jeans. “Ini kenapa pakaian dalem cowo semua?”
Mini terus
mencari-cari keberadaan barang yang dia cari namun tak kunjung ketemu hingga
dia frustasi. “Jangan-jangan gue salah masuk kamar.” Mini pun berbalik.
Bruk!!
Sesuatu
menutup wajah dan tubuhnya dengan kencang. “Mau maling ya loe?”
“Lepasin!” Mini
memberontak dengan sekuat tenaga hingga dia berhasil melumpuhkan orang yang
menyerangnya hingga mereka terjatuh ke kasur.
Mini
menyentuh sesuatu yang tidak tertutup sehelai benang pun. “Dada?” Seorang cowok
bertelanjang dada kini ada di bawahnya. Mini melihat wajah cowok yang
ditindihinya. “Redo?”
“Siapa loe?
Mau maling ya?”
Mini
buru-buru beranjak. Kakinya menginjak selimut yang digunakan Redo untuk
menutupi dirinya sehingga menyingkap apapun yang tadi ditutupinya. “Aaa!!!” Mini
berteriak sejadi-jadinya.
Redo
buru-buru menarik selimut dan menutupi tubuhnya. “Oh My God Oh My God Oh My God
maafkan hamba-Mu. Hamba melihat yang tidak seharusnya dilihat. Oh My God!!” Mini
membelakangi Redo.
“Eh sorry,
lagian loe ngapain disini? Gue kan mau pake baju.”
“Gue siapa
ya? Intinya gue kesini sama Boby.” Jawab Mini tanpa berbalik.
“Oo, eh
ambilin handuk gue dong.”
“Mana?”
“Di deket
kaki loe.”
Mini
melirik ke bawah. Handuk berwarna cokelat tergeletak begitu saja. Dia mengambil
handuk cokelat itu dan melemparnya ke Redo. “Gue mau tanya deh, kamar Riri yang
mana?”
Redo
tertawa dan mengangguk. “Oo jadi loe salah masuk kamar? Kamar Riri, Vera, sama Sasha
itu yang paling depan. Warna hijau pintunya.”
Mini
berbalik dan berkacak pinggang. Ketika sadar Redo belum melilitkan handuknya Mini
langsung menutup mata. “Oh My God! Kenapa belum ditutup?”
Redo
nyengir. “Baru mau ditutup. Sekarang udah.”
“Semuanya
warna hijau!!”
“Hijau
tosca.”
“Yauda,
daripada gue lama-lama disini mending gue keluar!!” Mini langsung buru-buru
pergi dari kamar tersebut dan masuk ke dalam kamar Riri. Namun sesuatu
menghentikan langkahnya.
Boby tengah
mengelap jok motornya dengan begitu teliti. Menyemprotkan cairan ke jok motor
lalu menciumnya. Tampaknya dia belum yakin dengan apa yang sudah dia lakukan
sehingga dia mengulanginya lagi. “Ya Tuhan, Boby freak banget! Cuma gara-gara
kena pipis gue!”
Mini masuk
ke kamar para cewek dan mencari-cari barang yang dibutuhkannya. Setelah
mendapatkan apa yang diperlukan, Mini masuk ke dalam toilet dan mengganti
semua.
Mini keluar
dari toilet yang ada di dalam kamar. Lalu dia melihat sekeliling. Ada sebuah
figura berisi begitu banyak foto dimana di atasnya terdapat tulisan RUSH. Mini
tersenyum melihat persahabatan itu. Tampak begitu solid.
Di samping
figura terdapat begitu banyak tulisan. Dia tertarik pada tulisan Sasha dan Vera.
‘Redo Fernando, walau kamu playboy tapi irama cintamu selalu playing di hatiku.
Sampai kapanpun, aku akan menunggumu. Aku tahu, kamu sekarang hanya mencari
kebahagiaan tapi pada akhirnya akulah tempat terakhirmu.’ Sasha Ayuningtias.
Mini
tersenyum membacanya. “Sasha cinta banget sama Redo ternyata. Kenapa ada cowo
begitu playboynya.”
‘Boby Indra
Muda… Ga ada yang tahu sebenernya loe itu freak. Semua ketutupan dengan kulit
loe yang cool. Tapi, semua kefreakan loe itu… itulah yang membuat gue jatuh
cinta diam-diam. Tapi gue akan selalu mengharapkan loe.’ Vera.
“Vera juga
cinta sama Boby. Sepertinya gue ga boleh merusak angan-angan Vera. Gue mundur
aja.”
Mini
buru-buru keluar dari kamar. Boby sudah selesai membersihkan motornya, dan dia
duduk di kursi kayu yang terletak di teras kostan. “Nama loe siapa?” suara Redo
mengagetkan Mini yang masih terbayang-bayang dengan tulisan yang dibacanya.
“Mini.”
Jawabnya lemas.
“Loe
kenapa?”
“Ga
apa-apa. Oh ya Do, gue mau tanya deh.”
“Tanya
apa?”
“Loe pernah
masuk ke kamar ini?” Mini menunjuk Dotu berwarna hijau tosca itu.
Redo
menggeleng. “Peraturannya cowok ga boleh masuk kamar cewek. Tapi cewek boleh
masuk kamar cowok.”
Mini
mengangguk. Terjawab apa yang melayang di pikirannya.
“Oh ya.” Redo
berbisik di telinga Mini.
“Wey!! Ga
sopan loe!”
“Sorry.”
“Apa?”
Tanya Mini dengan jutek.
“Jangan
bilang-bilang siapa-siapa ya apa yang terjadi tadi. Gue malu.”
Wajah Mini
memerah. “Gue juga malu buat cerita ke siapa-siapa. Oh ya, loe berangkat ke
kampus naik apa?”
“Biasanya
bareng Boby kalo gue ga bawa mobil. Tapi sekarang gue bawa mobil.”
“Gue sama
loe ya?”
“Kan loe
pergi sama Boby.”
“Gue sama
loe ya?” Mini memohon.
“Oke.”
Jawab Redo dengan senang hati.
Mini keluar
dan menemui Boby. “Boby, gue ke kampus sama Redo.”
“Loh
kenapa? Kan loe pergi sama gue.”
“Ga
apa-apa.” Mini tersenyum.
Boby
berpikir sejenak. Apa mungkin Mini kena
daya pikat Redo? Dia ga boleh jadi korban Redo, bisa bahaya. Lagipula, kasihan Sasha.
“Ga, loe harus ke kampus sama gue.”
Boby
memegang tangan Mini dan menariknya. Boby menaiki motornya dan memakai helm.
“Naik!” suara Boby terdengar seperti sebuah perintah.
“Eh tapi
gue udah bilang ke Redo gue bareng dia.”
“Ga
apa-apa.”
Mini pun
naik dengan terpaksa. Bukannya dia tidak ingin, namun dia memikirkan Vera yang
pasti jauh lebih lama menyukainya.
Redo yang
mengetahui perasaan Vera pun tidak suka melihat kejadian itu. “Kasihan Vera.
Apa yang harus gue lakuin supaya mereka ga jadi deket?” gumam Redo.


