Bestfriend always life in heart
Waktu itu aku masih kelas 6 SD. Aku main ke rumah
nenekku dan kulihat lemari tak terpakai di belakang rumah nenek. Didalamnya
terdapat induk kucing hitam dan ketiga anaknya. Dua berwarna orange putih dan
satu berwarna hitam. Aku begitu tertarik dengan si hitam. Kugendong dia, ringan
sekali. Kira-kira usianya masih 2 minggu. “Bawa pulang aja.” Begitu kata
kakekku. Aku memang terpikir untuk mengadopsinya, tapi aku mau minta
persetujuan Ibuku dulu. Buru-buru kukayuh sepedaku dan pulang ke rumah. Kutanya
Ibuku apakah aku boleh membawa pulang ke rumah anak kucing berwarna hitam itu.
Awalnya Ibu tidak mengizinkan karena aku akan terkena omelan Ayah bila membawa
kucing ke rumah. Maklum saja, Ayahku jijik dengan kucing. Tapi, aku sudah
terlanjur sayang dengan anak kucing itu. Aku tidak peduli, yang penting aku
harus membawa anak kucing itu ke rumah. Urusan diomeli Ayah itu urusan
belakangan.
Esok harinya, aku kembali mengayuh sepedaku menuju
rumah nenek. Kulihat si hitam sedang menyusu dengan induknya. Agak tidak tega
sih kalau aku memisahkan dia dengan sodara-sodaranya. Apalagi dia masih butuh
ASI. Ah, aku bisa mengganti susunya dengan susu sapi. Pikirku. Kuambillah dia
setelah selesai menyusu. Sambil mengayuh sepeda dan suasana hati yang sangat
bahagia kugendong dia. “Sahabatku~” gumamku.
Setibanya di rumah, Ibu tertawa kecil melihat si
hitam. Aku dengan sangat bawel meminta pendapat Ibu untuk menamainya. Akhirnya,
kami putuskan member namanya Blacky. Ya, Blacky kucing kecilku sahabat baruku.
Hari-hari kulalui bersamanya. Kulatih dia hingga dia
selalu mengantarku kalau aku ke warung untuk jajan. Sebagai gantinya, aku
membelikannya sosis. Blacky sangat suka. Jadi teringat, waktu itu malam di
bulan Ramadhan. Orang-orang solat taraweh, aku dan Blacky malah main lari-larian
di halaman rumah. Dia mengejar-ngejarku. Kucing nakal!
1 SMP. Aku harus operasi usus buntu dan harus tinggal
di rumah sakit selama seminggu lebih. Duh, aku kangen banget sama Blacky.
Sepulang dari rumah sakit, aku agak sedih karena Blacky tidak mengenaliku. Tapi
kesedihanku tidak berlangsung lama. Blacky kembali mengenaliku dan mau bermain
denganku.
Ternyata, selama aku dioperasi Ibuku sedang
mengandung. Wah, itu adalah kabar yang sangat membahagiakan. Seorang adik yang
sudah lama kudamba-dambakan akhirnya hadir juga di rahim Ibuku. Kelas 2 SMP
adikku lahir ke muka bumi. Perempuan. Ya, kini hidupku terasa begitu lengkap.
Blacky dan Shafa. Sahabat dan adik…..
Bertahun-tahun tidak kukira aku semakin dewasa.
Adikku pun sudah bisa jalan dan bermain dengan Blacky. Ya, tentunya Blacky udah
kawin hehe dan sahamnya ada dimana-mana. *tepuk tangan*
Suatu hari, sekitar setahun yang lalu Blacky tidak
pulang ke rumah hampir satu minggu. Blacky tidak pernah begitu. Walau musim
kawin sekalipun, dia selalu pulang ke rumah untuk makan dan minum. Tapi ini
tidak. Aku benar-benar khawatir. Ikatan batin kami begitu kuat dan aku sangat
yakin ada sesuatu pada Blacky.
Aku menangis semalaman, tanpa Ayah dan Ibu ketahui.
Terkadang mereka suka menertawai kalau aku terlalu khawatir dengan Blacky. Ya,
hanya saja mereka tidak merasakan kalau Blacky memang benar sahabatku.
Sahabatku yang paling setia. Yang selalu menemaniku di saat-saat aku sedang
merasa sedih, marah, dan sepi.
Esoknya, saat magrib tiba. Aku solat dengan sangat
khusyuk dan berdoa. “Ya Allah, bila Blacky memang harus mati buatlah dia mati
di depan rumahku. Kalau dia sakit, pulangkanlah dia ke rumahku. Kalau dia
sehat, jangan buat aku menghawatirkannya.” Aku keluar rumah, dan do’aku
terjabah. Blacky sedang tiduran di depan rumahku. Tapi dia tidak baik-baik
saja. Tubuhnya begitu kurus dan tidak bisa jalan. Aku menangis. Kubawa Blacky
masuk ke dalam rumah dan kuselimuti dia. Kuberi dia minum, aku tahu Blacky
haus. Kusuapi dia air. Kuberikan sosis kesukaannya tapi dia tidak mau. Kuseduhi
susu hangat dan dia tidak mau. Aku sangat khawatir. Kurawat dia dengan
sungguh-sungguh. Blacky sudah tua. Pikirku seperti itu. Tapi aku belum kerja,
aku mau Blacky juga merasakan uang gaji pertamaku. Aku mau beliin dia sosis
yang banyak, es krim, dan susu ultra yang dia sangat suka. Aku selalu berdoa
agar Allah memperpanjang umur Blacky. Alhamdulillah, tiga hari kemudian Blacky
sehat. Aku sangat bahagia. Ah Blacky, kamu membuatku khawatir saja!!
Kini Blacky sudah 9 tahun. Ya, 9 tahun yang lalu ketika
kakinya masih gemetaran ketika menginjak lantai. Hari-hari yang kulalui
bersamanya begitu panjang. Blacky yang tiap pagi membangunkanku tidur dengan
mengeong dan masuk ke kamarku. Blacky yang selalu mengantarku ke warung. Dia
kucing, bukan anjing. Tapi dia tak kalah dari anjing dalam hal persahabatan.
Kini Blacky sudah tiada…
Aku rindu kamu~
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar